Rabu, 30 Mei 2012
Selasa, 29 Mei 2012
Beberapa Cara Aman Mengamati Transit Venus 2012
Momen transit Venus 2012 merupakan salah satu peristiwa langka yang dapat diamati secara aman serta dapat digunakan sebagai bagian dari pembelajaran, khususnya bagi para pendidik dan pelajar maupun mahasiswa. Beberapa alat peraga astronomi yang dapat dibuat antara lain pinhole, proyeksi matahari, dan kacamata matahari. Ada satu peringatan yang harus dipatuhi saat melakukan pengamatan ini. Jangan pernah melihat langsung ke Matahari menggunakan teleskop atau mata telanjang, karena dapat menyebabkan kerusakan mata.
Bagi yang memiliki teleskop, kita dapat mengamati peristiwa ini dengan menambahkan filter matahari yang diletakkan di depan lensa objektif. Filter ini dapat pula dibuat menjadi kacamata matahari. Jika tidak ada filter, kita dapat menggunakan metode proyeksi untuk menyaksikan peristiwa ini. Proyeksi dengan menggunakan teleskop atau binokular dilakukan dengan cara mensejajarkan teleskop atau binokular dengan matahari. Di belakang lensa okuler diberi layar berupa karton putih. Atur jarak karton putih ke lensa okuler sehingga citra matahari tajam dan jelas. Cara ini tidak disarankan dalam jangka waktu yang lama karena dapat melelehkan bagian teleskop/binokuler dan merusak lensa okuler.
Sumber gambar: http://resources.yesican-science.ca/trek/eclipse0602/pinhole2.html
Lantas, bagaimana cara kita mengamati peristiwa ini jika kita tidak memiliki teleskop ataupun binokular? Cara yang paling mudah adalah dengan membuat pinhole camera atau jika kita Indonesiakan menjadi kamera lubang jarum. Caranya pun bermacam-macam mulai dari yang sederhana sampai yang sedikit lebih kompleks.
Pinhole sederhana
Pinhole sederhana dibuat dengan menggunakan dua buah karton. Satu buah karton dilubangi dengan jarum sedangkan karton satu lagi digunakan sebagai layar. Karton yang digunakan sebagai layar dilapisi dengan kertas putih agar citra matahari bisa terlihat jelas. Sejajarkan dua karton tadi dengan matahari. Karton yang dilubangi menghadap ke matahari sedangkan karton layar berada di bawah karton yang dilubangi. Atur jarak antara kedua karton sampai didapatkan citra matahari yang jelas (citra piringan matahari tajam).
Pinhole sederhana dibuat dengan menggunakan dua buah karton. Satu buah karton dilubangi dengan jarum sedangkan karton satu lagi digunakan sebagai layar. Karton yang digunakan sebagai layar dilapisi dengan kertas putih agar citra matahari bisa terlihat jelas. Sejajarkan dua karton tadi dengan matahari. Karton yang dilubangi menghadap ke matahari sedangkan karton layar berada di bawah karton yang dilubangi. Atur jarak antara kedua karton sampai didapatkan citra matahari yang jelas (citra piringan matahari tajam).
Pinhole kotak kardus bekas
Pinhole kotak kardus dibuat dengan memanfaatkan kardus bekas. Bahan-bahannya antara lain kotak kardus bekas, aluminium foil, dan kertas putih. Baik pada pinhole sederhana maupun pada pinhole model kotak kardus, citra matahari akan terlihat kecil.
Pinhole kotak kardus dibuat dengan memanfaatkan kardus bekas. Bahan-bahannya antara lain kotak kardus bekas, aluminium foil, dan kertas putih. Baik pada pinhole sederhana maupun pada pinhole model kotak kardus, citra matahari akan terlihat kecil.
Venus koker
Venus koker dikembangkan di Belanda oleh Jos van den Broek. Tim LS mendapatkan pdf pembuatannya dari pembuatnya saat sedang menghadiri Universe Awareness workshop di Belanda. Prinsipnya adalah kita membuat semacam kamar gelap dengan menggunakan tabung yang terbuat dari karton. Bagian layar menggunakan kertas putih. Citra matahari diamati melalui lubang pengintip. Pada saat digunakan, pastikan Venus Koker sejajar dengan matahari.
Venus koker dikembangkan di Belanda oleh Jos van den Broek. Tim LS mendapatkan pdf pembuatannya dari pembuatnya saat sedang menghadiri Universe Awareness workshop di Belanda. Prinsipnya adalah kita membuat semacam kamar gelap dengan menggunakan tabung yang terbuat dari karton. Bagian layar menggunakan kertas putih. Citra matahari diamati melalui lubang pengintip. Pada saat digunakan, pastikan Venus Koker sejajar dengan matahari.
Pinhole prisma
Cara pengamatan transit Venus di bawah mirip dengan Venus Koker hanya saja karton yang digunakan tidak berbentuk tabung tetapi berbentuk prisma segitiga berbahan kardus bekas. Bagian yang menghadap matahari dibuat lubang berbentuk persegi. Bagian lubang ini kemudian ditutupi oleh aluminium foil dan dilubangi dengan jarum. Bagian untuk mengamati citra matahari dibuat dengan membuat lubang persegi pada bagian samping bawah pinhole prisma sehingga layar yang berupa kertas putih dapat terlihat.
Cara pengamatan transit Venus di bawah mirip dengan Venus Koker hanya saja karton yang digunakan tidak berbentuk tabung tetapi berbentuk prisma segitiga berbahan kardus bekas. Bagian yang menghadap matahari dibuat lubang berbentuk persegi. Bagian lubang ini kemudian ditutupi oleh aluminium foil dan dilubangi dengan jarum. Bagian untuk mengamati citra matahari dibuat dengan membuat lubang persegi pada bagian samping bawah pinhole prisma sehingga layar yang berupa kertas putih dapat terlihat.
Kekeran VenusLS
Dari hasil percobaan LS dalam pembuatan pinhole ini ada beberapa hal yang dapat disimpulkan antara lain:
Dari hasil percobaan LS dalam pembuatan pinhole ini ada beberapa hal yang dapat disimpulkan antara lain:
- Inti dari alat peraga astronomi pinhole adalah layar tempat melihat citra yang menggunakan kertas putih, tempat masuknya sinar matahari yang biasanya menggunakan aluminium foil yang dilubangi dengan jarum, “kamar gelap” dan lubang pengintip pada jenis pinhole venus koker maupun pinhole prisma.
- Ukuran panjang tabung/kotak sangat penting. Semakin panjang tabung/kotak maka semakin besar citra matahari yang dihasilkan. Untuk menentukan besar citra proyeksi yang dihasilkan, kita dapat menggunakan perkalian antara panjang kotak/tabung dengan faktor 0,0093. Sebagai contoh jika kita memiliki kotak/tabung ukuran 1 meter, maka citra yang dihasilkan sekitar 0,0093 meter (atau setara dengan 9,3 mm). Dari percobaan pinhole sederhana dan pinhole kotak kardus menghasilkan citra matahari yang kecil. Pada pinhole kotak kardus dapat disiasati dengan menyambung beberapa kardus sehingga menjadi lebih panjang.
- Pinhole juga dapat digunakan untuk mengamati bintik matahari, sehingga pasca fenomena transit venus, pinhole yang telah dibuat tetap dapat dimanfaatkan.
- Besar lubang yang dibuat sangat menentukan. Percobaan yang dapat kita lakukan adalah dengan memvariasikan ukuran lubang pada aluminium foil. Hal ini dapat juga digunakan sebagai tugas pembelajaran bagi siswa-siswi saat fenomena berlangsung sehingga para siswa dapat menemukan ukuran lubang yang optimal untuk pengamatan transit venus.
sumber : http://langitselatan.com
Senin, 28 Mei 2012
TUGAS IPA UNTUK KLS X SMKN 1 MALUK
1.jelaskan mengapa di berbagai belahan bumi memiliki waktu yang berbeda-beda.
2. Jelaskan istilah-istilah berikut:
a. seismograf c. episentrum e. isosiesta
b. Seismograf d. hiposentrum
3. Bagaimana cara kita melakukan persipan dalam menghadapi gempa untuk memperkecil resiko akibat gempa
bumi?
4. Pasang surut air laut dipengaruhi oleh tarikan gravitasi bulan. jelaskan bagaimana peristiwa ini terjadi!
5. Jelaskan mengapa Pluto sudah tidak termasuk lagi sebagai planet.
catatan:
- jawaban ditulis tangan dan dikumpulkan pada hari pelaksanaan UAS IPA
Sabtu, 19 Mei 2012
Mengapa Bulan / Matahari tampak lebih besar di cakrawala?
Mengapa bulan/matahari kelihatan lebih besar pada waktu pagi atau sore hari?
Gejala bulan/matahari lebih besar pada saat dekat dengan cakrawala hanyalah ilusi, karena otak kita berpikir bahwa arah cakrawala lebih jauh daripada di titik kulminasi / zenith. Karena itu ketika kamu melihat Bulan / Matahari terbit di cakrawala dan perlahan -lahan naik ke zenith ia akan tampak semakin mengecil.
Matahari tampak lebih besar di cakrawa. Kredit : wallpaper4me.com
Fenomena ini juga dikenal sebagai Ilusi Bulan dan juga sama kasusnya dengan Matahari. Ilusi ini terjadi karena ketika Bulan / Matahari sedang di cakrawala secara tidak sadar kita membandingkannya dengan obyek latar depan seperti pohon, rumah, gunung atau kadang dengan cakrawala itu sendiri sehingga Bulan / Matahari tampak lebih besar dibanding ketika Bulan / Matahari menggantung sendirian di langit.
Kasus ilusi Bulan ini mirip atau sama dengan yang namanya ilusi Ponzo atau ilusi optik geometri dimana otak berpikir bahwa apapun yang ada di atas berada lebih jauh maka ukurannya pasti lebih besar. Tapi dalam kenyataannya ukurannya sebenarnya sama.
Ada juga yang menduga kalau ilusi tersebut terjadi karena pembiasan. Tapi, pembiasan atmosfer hanya perpengaruh pada penggepengan piringan matahari/bulan (yang justru membuat bulan/matahari lebih kecil pada sumbu vertikalnya) dan juga perubahan warna menjadi lebih merah.
Selasa, 01 Mei 2012
PASANG SURUT AIR LAUT
Pengetahuan tentang pasang surut sangat diperlukan dalam transportasi laut, kegiatan di pelabuhan, pembangunan di daerah pesisir pantai, dan lain-lain.
Mengingat pentingnya pengetahuan tentang pasang surut terutama bagi yang tertarik mempelajari masalah pantai dan estuari, maka akan dicoba dijelaskan tentang pengertian pasang surut itu sendiri.
Pengertian Pasang Surut
Pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil.
Faktor non astronomi yang mempengaruhi pasut terutama di perairan semi tertutup seperti teluk adalah bentuk garis pantai dan topografi dasar perairan.
Puncak gelombang disebut pasang tinggi dan lembah gelombang disebut pasang rendah.
Perbedaan vertikal antara pasang tinggi dan pasang rendah disebut rentang pasang surut (tidal range).
Periode pasang surut adalah waktu antara puncak atau lembah gelombang ke puncak atau lembah gelombang berikutnya. Harga periode pasang surut bervariasi antara 12 jam 25 menit hingga 24 jam 50 menit.
Pasang purnama (spring tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari berada dalam suatu garis lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang sangat tinggi dan pasang rendah yang sangat rendah. Pasang surut purnama ini terjadi pada saat bulan baru dan bulan purnama.
Pasang perbani (neap tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari membentuk sudut tegak lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang rendah dan pasang rendah yang tinggi. Pasang surut perbani ini terjadi pasa saat bulan 1/4 dan 3/4.
Gambar. Spring Tide dan Neap Tide
Tipe pasut ditentukan oleh frekuensi air pasang dengan surut setiap harinya. Hal ini disebabkan karena perbedaan respon setiap lokasi terhadap gaya pembangkit pasang surut. Jika suatu perairan mengalami satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari, maka kawasan tersebut dikatakan bertipe pasut harian tunggal (diurnal tides), namun jika terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari, maka tipe pasutnya disebut tipe harian ganda (semidiurnal tides). Tipe pasut lainnya merupakan peralihan antara tipe tunggal dan ganda disebut dengan tipe campuran (mixed tides) dan tipe pasut ini digolongkan menjadi dua bagian yaitu tipe campuran dominasi ganda dan tipe campuran dominasi tunggal.
Selain dengan melihat data pasang surut yang diplot dalam bentuk grafik (tentunya susah jika datanya banyak ya…), tipe pasang surut juga dapat ditentukkan berdasarkan bilangan Formzal (F) yang dinyatakan dalam bentuk:
F = [A(O1) + A(K1)]/[A(M2) + A(S2)]
dengan ketentuan :
- F ≤ 0.25 : Pasang surut tipe ganda (semidiurnal tides)
- 0,25<F≤1.5 : Pasang surut tipe campuran condong harian ganda (mixed mainly semidiurnal tides)
- 1.50<F≤3.0 : Pasang surut tipe campuran condong harian tunggal (mixed mainly diurnal tides)
- F > 3.0 : Pasang surut tipe tunggal (diurnal tides)
Dimana:
- F : bilangan Formzal
- AK1 : amplitudo komponen pasang surut tunggal utama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan & matahari
- AO1 : amplitudo komponen pasang surut tunggal utama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan
- AM2 : amplitudo komponen pasang surut ganda utama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan
- AS2 : amplitudo komponen pasang surut ganda utama yang disebabkan oleh gaya tarik matahari
Karena sifat pasang surut yang periodik, maka ia dapat diramalkan. Untuk meramalkan pasang surut, diperlukan data amplitudo dan beda fasa dari masing-masing komponen pembangkit pasang surut. Komponen-komponen utama pasang surut terdiri dari komponen tengah harian dan harian. Namun demikian, karena interaksinya dengan bentuk (morfologi) pantai dan superposisi antar gelombang pasang surut komponen utama, akan terbentuklah komponen-komponen pasang surut yang baru.
Pada buku peramalan pasang surut yang dikeluarkan oleh DISHIDROS dan BOKOSURTANAL tertulis nilai komponen pasut tersebut baik amplitudo maupun fase pada beberapa lokasi di perairan Indonesia. Nah dengan mengetahui amplitudo komponen tersebut, maka dapat dihitung kan nilai bilangan Formzal nya..so tipe pasutnya dapat ditentukan.
Nah mungkin sedikit bingung tentang apa itu komponen M2, S2, O1, K1, P1 , M4, MS4 dan lain-lain.. (saya akan coba jelaskan pada tulisan berikutnya… so sabar dulu ya..)
Daftar Istilah pada pasang surut
Mean Sea Level (MSL) atau Duduk Tengah adalah muka laut rata-rata pada suatu periode pengamatan yang panjang, sebaiknya selama 18,6 tahun.
Mean Tide Level (MTL) adalah rata-rata antara air tinggi dan air rendah pada suatu periode waktu.
Mean High Water (MHW) adalah tinggi air rata-rata pada semua pasang tinggi.
Mean Low Water (MLW) adalah tinggi air rata-rata pada semua surut rendah.
Mean Higher High Water (MHHW) adalah tinggi rata-rata pasang tertinggi dari dua air tinggi harian pada suatu periode waktu yang panjang. Jika hanya satu air tinggi terjadi pada satu hari, maka air tinggi tersebut diambil sebagai air tinggi terttinggi.
Mean Lower High Water (MLHW) adalah tinggi rata-rata air terendah dari dua air tinggi harian pada suatu periode waktu yang panjang. Hal ini tidak akan terjadi untuk pasut harian (diurnal).
Mean Higher Low Water (MHLW) adalah tinggi rata-rata air tertinggi dari dua air rendah harian pada suatu periode waktu yang panjang. Hal ini tidak akan terdapat pada pasut diurnal.
Mean Lower Low Water (MLLW) adalah tinggi rata-rata air terendah dari dua air rendah harian pada suatu periode waktu yang panjang. Jika hanya satu air rendah terjadi pada satu hari, maka harga air rendah tersebut diambil sebagai air rendah terendah.
Mean High Water Springs (MHWS) adalah tinggi rata-rata dari dua air tinggi berturut-turut selama periode pasang purnama, yaitu jika tunggang (range) pasut itu tertinggi.
Mean Low Water Springs (MLWS) adalah tinggi rata-rata yang diperoleh dari dua air rendah berturut-turut selama periode pasang purnama.
Mean High Water Neaps (MHWN) adalah tinggi rata-rata dari dua air tinggi berturut-turut selama periode pasut perbani (neap tides), yaitu jika tunggang (range) pasut paling kecil.
Mean Low Water Neaps (MLWN) adalah tinggi rata-rata yang dihitung dari dua air berturut-turut selama periode pasut perbani.
Highest Astronomical Tide (HAT)/Lowest Astronomical Tide (LAT) adalah permukaan laut tertinggi/terendah yang dapat diramalkan terjadi di bawah pengaruh keadaan meteorologis rata-rata dan kombinasi keadaan astronomi.Permukaan ini tidak akan dicapai pada setiap tahun. HAT dan LAT bukan permukaan laut yang ekstrim yang dapat terjadi, storm surges mungkin saja dapat menyebabkan muka laut yang lebih tinggi dan lebih rendah. Secara umum permukaan (level) di atas dapat dihitung dari peramalan satu tahun.Harga HAT dan LAT dihitung dari data beberapa tahun.
Mean Range (Tunggang Rata-rata) adalah perbedaan tinggi rata-rata antara MHW dan MLW.
Mean Spring Range adalah perbedaan tinggi antara MHWS dan MLWS.
Mean Neap Range adalah perbedaan tinggi antara MHWN dan MLWN.
Langganan:
Postingan (Atom)